Selasa, 31 Mei 2011

KETIKA AKU JATUH CINTA


Ketika Aku Jatuh Cinta

Rabb...

Ketika aku jatuh cinta

Anugerahkanlah padaku sebuah cinta

Cinta yang semakin mendekatkanku padaMu

Cinta yang mengantarkanku pada cintaMu

Cinta yang menambah kerinduanku padaMu

Cinta yang membuat lisan ini sibuk menyebut asmaMu

Cinta yang menjauhkanku dari laranganMu

Cinta yang menjadikanku taat pada perintahMu

Cinta yang tidak melalaikanku pada hakMu

Cinta yang membuatku selalu teringat padaMu

Cinta yang tidak membuatMu cemburu

Cinta yang mengantarkanku pada ridhoMu

Cinta yang membimbingku menuju rahmatMu

Cinta yang menuntunku pada cahayaMu

Cinta yang mengajarkanku tentang kebenaranMu

Cinta yang memperdalam keyakinanku padaMu

Cinta yang mengarahkanku ke syurgaMu

Cinta yang membawaku berjumpa denganMu

Kabulkanlah Cintaku...

Selasa, 24 Mei 2011


Pacaran Berkedok Ta’aruf Makin Marak di Dunia Maya

BELAKANGAN ini ta’aruf mengalami penyempitan makna. Bahkan dalam praktiknya, banyak yang mengidentikkan ta’aruf dengan pacaran. Salah satu penyebabnya adalah maraknya ta’aruf yang dilakukan oleh para ikhwan maupun akhwat di dunia maya. Padahal, sejatinya yang mereka lakukan itu adalah pacaran berkedok ta’aruf, karena dalam aksinya, tiada lagi hijab dalam interaksi bagi akhwat dan ikhwan bukan mahram, seakan bebas landas, curhat di jejaring sosial facebook, hujat-hujatan. Itulah pacaran terselubung dengan membawa topeng ta’aruf.

Ikhwan-ikhwan yang menggunakan profil islami tak pernah kehabisan ide dalam melegalkan pacaran. Jika orang-orang yang tidak membawa agama berani terang-terangan mengatakan pacaran, tapi tidak dengan pemuda pemudi yang berciri khas agama, mereka berpacaran dengan embel-embel ta’aruf.

Entah apa yang ada di benak mereka, apakah ta’aruf dipahami sesuai syariat atau sengaja menyelewengkan dari makna yang sebenarnya, banyak ikhwan dengan mudahnya mengatakan ingin ta’aruf dengan akhwat yang diincarnya melalui dunia maya tanpa perantara pihak ketiga.

Komentar-komentar di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang untuk umum mana yang harusnya dijadikan rahasia dirinya dengan Allah, facebook menjadi keranjang sampah juga menjadi diary bagi sebagian orang. Akhwat dan ikhwan berpacaran pun sudah mulai berani membuat status in relationship dengan pasangan yang disebutnya sedang ta’aruf.

… Komentar-komentar di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang pacaran dan mana yang ta’aruf. Belum ada ikatan apapun mereka sudah berani memanggil umi-abi…

Tak sedikit juga ikhwan genit dan akhwat ganjen saling memberi perhatian di tempat umum. “Sudah shalatkah ukhti? Jangan telat makan ya..” tulis sang ikhwan. Sang akhwat pun tak mau kalah, membalasnya dengan kata-kata senada, “Syukron ya akhi atas perhatiannya, semangat belajar ya.”

Ada pula komentar yang lebih liar, “Eh iya ukhti kelihatan anggun dengan jilbab itu, hehehehe.” Maka si akhwat balik menjawab, “Ah, akhi nih bisa aja, ntar ana GR nih, heeeeee…” Masya Allah, itukah yang disebut ta’aruf?

Dulu penulis banyak menemukan pencerahan di dunia maya dengan banyak berteman, namun jadi ilfil (ilang feeling) setelah mengetahui sepak terjang beberapa ikhwan akhwat, teriaknya agama, tapi murah terhadap lawan jenis, menebar simpati dan basa-basi.

Mereka memakai kedok ta’aruf untuk melegalkan pacaran. Belum ada ikatan apapun sudah berani memanggil “umi-abi” atau “abang-adik.” Tak sedikit pula ditemui akhwat berjilbab lebar yang masih membudidayakan pacaran. Tanpa malu-malu lagi. Apakah semua itu dilakukan karena ketidaktahuan akhwat tentang bagaimana Islam mengatur pergaulan dengan lawan jenis? Wallahu a’lam. Yang pasti ada juga yang biasa berkomentar pacaran haram, tapi dirinya masih juga berpacaran, namun memakai kedok ta’aruf. Padahal praktiknya sami mawon.

…akhwat jangan mudah terpedaya pada ikhwan di dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya…

Hendaknya benar-benar lurus memahami kata ta’aruf seperti yang diajarkan oleh Nabi kita, jangan sampai menjadikan ta’aruf untuk menghancurkan keagungan Islam. Telah jelas dalam Islam, bagaimana hendaknya kita menjaga diri kita agar tidak terjatuh pada perkara-perkara yang membuat Allah murka. Jangan memakai istilah ta’aruf jika hanya sebatas ingin menjadi uji coba bermain hati.

Hati akhwat biasanya lembut dan mudah tersentuh, korban yang pertama akan merasakan terluka oleh ta’aruf coba-coba tadi tentunya para akhwat. Begitu juga para akhwat, jangan mudah terpedaya pada ikhwan dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya. Apa yang ditampilkan dalam dunia maya, profil, kata-kata, tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai karakter yang sesungguhnya, juga tidak dapat cukup untuk menggambarkan pribadinya secara utuh, tetap waspada.


Kalimat Motivasi dan Renungan ISLAM

Kalimat Motivasi dan Renungan ISLAM
 
Ada tiga hal, barang siapa di dalam dirinya terdapat tiga hal tersebut, Allah akan menghamparkan naungan-Nya (rahmat) kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga, yakni bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang lemah, belas kasih kepada kedua orangtua, dan berbuat baik kepada hamba sahaya. [Rasulullah saw., dari Jabir r.a. riwayat Tirmidzi]

Dua hal yang tidak ada satupun yang melebihi keunggulannya adalah Iman kepada Allah SWT dan memberi manfaat untuk kaum muslimin. [Rasulullah saw]

Ada dua jenis perbuatan di dunia ; yang sukses dan yang gagal. Sekarang renungkanlah bahwa perbuatan yang tergesa-gesa yang didorong oleh hawa nafsu, bukannya oleh hikmah, cenderung untuk gagal. Semakin orang mengerjakan sesuatu dengan emosional, maka kecenderungannya untuk gagal lebih tinggi. Pendek kata, orang harus berfikir dalam-dalam sebelum berbuat. Berpikir dalam-dalam akan membuahkan kesungguhan, dan setiap muslim harus bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu disertai kesadaran bahwa dia akan menghadapai hari Pengadilan, dan dia harus menyadari bahwa dia akan menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Semakin kita berbuat dengan benar, kita akan semakin sukses. [Gai Eaton (dari Muslim Today)].

Kebanyakan orang tidak berdoa hingga mereka mengalami kesulitan. Jika orang sangat memerlukan pertolongan, barulah mereka banyak berdoa. Tetapi setelah mereka mendapatkan yang diinginkannya, mereka mengurangi doanya. Jika seorang mandi lima kali sehari, tubuhnya akan bersih. Shalat lima kali sehari membersihkan pikiran. [Muhammad Ali - juara Tinju Dunia]

Dengarkan hatimu, jangan dengarkan nafsumu. Nafsuu mengajakmu untuk berbangga-bangga dan mengejar kemegahan dunia. Berpalinglah dari kebanggaan yang semu, dan arilah Dia di dalam lubuk hati dan jiwamu. [Syaikh Abdul Qadir Jailani].

Jangan mencoba lari dari ujian dan penderitaan, tetapi hadapilah dengan penuh kesabaran. Ujian dan penderitaan itu tidak dapat dihindari, maka mau tidak mau harus dihadapi dengan penuh kesabaran. Bagaimana mungkin engkau mengharapkan agar seluruh dunia dengan segala isinya yang telah diciptakan berubah hanya untuk menyenangkanmu? Para nabi a.s. adalah sebaik-baik makhluk, namun mereka selalu mengalami penderitaan, demikian pula dengan para pengikutnya. Orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka untuk mencapai kemuliaan hendaknya juga menjadikan mereka sebagai suri tauladan. [Syaikh Abdul Qadir Jailani].

Apa saja yang diucapkan menunjukkan apa saja yang ada di dalam hati.
Penjelasan : lidah mengungkapkan apa yang di dalam hati. Jika hati dalam keadaan bingung atau sakit, demikian pula dengan perkataan. Jika hati dalam keadaan sehat dan bersih, maka perkataan yang diucapkan adalah hal-hal yang baik. Jika Anda memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang diucapakan seseorang, Anda akan mengetahui hubungannya dengan Allah SWT dan kedudukannya disisi Allah. [Hikam, Ibn Atha'illah].

Tingkatan cinta yang paling tinggi adalah Tatayyum (terpikat). Tingkatan yang paling rendah adalah alaqah (terikat), jika hati terikat dengan yang dicintai maka muncullah sabahah (tergila-gila), ketika hati merasa terpesona; kemudian gharam (hasrat), ketika cinta tidak mau pergi dari hati ; kemudian asyaq (cinta yang sangat bergairah), dan akhirnya Tatayyum. [Ibn Taimiyah]

Jika pikiran buruk tidak dikendalikan, pikiran itu akan menghasilkan hasrat, hasrat akan menghasilkan keinginan, keinginan akan menghasilkan tujuan, dan tujuan akan menghasilkan perbuatan, dan perbuatan akan menghancurkan dan menyebabkan azab Allah SWT. Maka pikiran yang buruk harus diberantas hingga ke akar-akarnya. Sesuatu yang melintas ke dalam pikiran adalah penyebab dari semua perbuatan. [Abu Hamid Al-Ghazali].

Hati bisa mengeras sebagaimana tubuh bisa sakit, obatnya adalah bertaubat dan memohon perlindungan (dari kezaliman). Hati bisa berkarat seperti cermin yang buram, dan pengkilatanya adalah dengan berzikir. Hati bisa telanjang seperti tubuh yang telanjang, dan pakaiannya adalah takwa. HHati bisa lapar dan haus seperti tubuh yang haus, dan makanan dan minumannya adalah ilmu, cinta, tawakkal, taubat, dan menghamba kepada-Nya. [Ibnu Qayyim al jauziyah].

Obatmu ada dalam dirimu, tetapi engkau tidak merasakannya. Sakitmu berasal dari dirimu, tetapi engkau tidak melihatnya. Engkau menganggap bahwa dirimu sangat kecil, padahal dirimu dapat memuat alam semesta. Sesungguhnya dirimu adalah kitab yang nyata, yang di dalamnya tersembunyi abjad yang dapat dibaca. Untuk itu, engkau tidak perlu mencari sesuatu diluar dirimu, apa yang kau cari telah ada ddalam dirimu, jika engkau mau memikirkannya. [Ali bin Abi Thalib r.a.]

Aku mencari teman yang baik, tetapi aku tidak menemukan teman yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian yang baik, tetapi aku tidak menemukan pakaian yang lebih baik selain takwa. Aku memikirkan tentang berbagai macam kekayaan, tetapi tidak menemukan kekayaan yang lebih baik daripada merasa dengan yang sedikit. Aku memikirkan tentang semua perbuatan baik, tetapi aku tidak menemukan perbuatan yang lebih baik daripada memberi nasehat yang baik. Aku mencari semua jenis makanan, tetapi aku tidak menemukan makanan yang lebih baik kecuali kesabaran. [Umar r.a.]

Sadarilah akan semua potensimu, gunakanlah semua kekuatanmu untuk meraihnya. Ciptakan sebuah lautan dari tetesan embun. Jangan meminta cahaya dari bulan, tetapi nyalakanlah dari percikan api yang ada pada dirimu. [Muhammad Iqbal].